This WordPress.com site is the bee's knees

Aside

‘Allah meninggikan orang-orang yang beriman dan menunutut ilmu

‘Allah meninggikan orang-orang yang
beriman dan menunutut ilmu dalam
beberapa derajat’ (ayat).
‘Menuntut ilmu adalah kewajiban atas
setiap Muslim (pria dan wanita)’ (hadits)
‘Barangsiapa yang menghendaki kebaikan
dunia, hendaklah berilmu. Barangsiapa
yang menghendaki kebaik Akhirat,
hendaklah beilmu. Dan barangsiapa yang
menghendaki kebaikan dari keduanya,
hendak pula dengan ilmu’ (hadits).
Jika kita mengingat kembali sejarah
sebelum ketibaan Islam di kota Mekah, akan
didapati betapa kegelapan saat itu
menyelimuti kehidupan penduduk kota
tersebut. Salah satu bentuk kegelapan itu
adalah pandangan dan perlakukan
terhadap kaum hawa yang sama sekali
tidak manusiawi. Mereka tidak lebih dari
sebuah objek kaum Adam, yang terkadang
pula melampaui batas-batas kewajaran
sebagai manusia.
Walaupun ada wanita-wanita pengecualian,
seperti Khadijah binti al-Khuwailid
(kemudian menjadi isteri Rasulullah SAW,
pada umumnya kaum wanita adalah
segmen masyarakat yang ‘marginalized’
dan bahkan ‘oppressed’. Melakukan
pembenahan diri, atau meminjam istilah
modern ‘self empowerment’ dilihat sebagai
pembangkangan terhadap tabiat
kewanitaan.
Dan oleh karena hal-hal inilah yang
menjadikan orang-orang Arab ketika itu,
khususnya para pembesar, tidak
menginginkan kehadiran anak-anak wanita
di dalam keluarga mereka. Selain bisa
menjadi sumber kehinaan, juga karena
anak-anak wanita dianggap hanya beban
keluarga dan masyarakat yang tidak dapat
bermanfaat, khususnya di saat terjadi
peperangan.
Di tengah tebalnya gulita kegelapan itulah
cahaya kebenaran datang dengan
terutusnya Rasul terakhir, Muhammad SAW.
Beliaulah yang membawa ajaran tersebut
dengan perubahan drastis dalam
masyarakat, dari kegelapan kepada cahaya,
dari kebodohan kepada peradaban. Wanita-
wanita, tidak saja bahwa mereka kembali
meraih penghormatan dan kesetaraan,
justeru dalam banyak hal diberikan
‘privileges’ (kelebihan-kelebihan) demi
terbentuknya ‘kesetaraan gender’ yang
selama ini telah hilang.
Salah satu di antara kelebihan-kelebihan
tersebut adalah diwajibkannya kepada
mereka, sebagaimana kepada Muslim pria
untuk menuntut ilmu, seperti yang
dikutipkan pada pembukaan tulisan ini.
Wanita dan Pendidikan
Ada barangkali kekeliruan dalam melihat
defenisi tentang pendidikan selama ini.
Pendidikan seharusnya tidak saja dilihat
pada jalur formal lewat bangku sekolah
data universitas yang bergengsi. Ternyata
pendidikan itu juga bisa dilakukan lewat
jalur-jalur informal yang sesuai dengan
keadaan seorang wanita. Saya melihat ini
penting untuk koreksi, mengingat adanya
juga kaum ibu yang merasa minder hanya
karena tidak sempat duduk di bangku
kuliah, tentu karena satu dan lain hal. Dan
ketidak sempatan ini disebabkan buka
karena ketidak inginan menunut ilmu, tapi
memang karena adanya hal-hal terkait yang
menjadikan mereka tidak duduk di bangku
kuliah. Namun demikian, ibu-ibu tersebut
tetap mendalami ilmu-ilmu yang diperlukan
dalam melakukan fungsinya sebagai
‘abid’ (hamba) maupun ‘khalifah’ Allah di
muka bumi.
Ada beberapa alas an yang dapat
dikemukakan mengapa menuntut ilmu bagi
kaum Ibu menjadi sangat penting:
Pertama, dalam pandangan Islam wanita
dan pria tak ubahnya seperti dua sisi mata
uang. Dan dalam membangun kesalehan,
baik pada tataran individual maupun
masyarakat, keduanya menjadi ‘supporting
unit’ kepada satu dan lainnya. Inilah yang
disebutkan dalam istilah Al-Qur’an ‘awliyaa’
antara satu dengan yang lain, seperti yang
difirmankan: ‘Dan orang beriman laki-laki
bersama orang beriman wanita, mereka
adalah pendukung antara satu dengan
yang lain’ (ayat).
Artinya dalam upaya membangun
kesalehan di atas persada bumi ini, kedua
sisi pelaku (pria dan wanita) harus sama-
sama ‘equipped’ (dilengkapi) dengan hal-
hal yang dibutuhkan dalam proses
mewujudkan kesalehan (ibadah dan
khilafah) tersebut. Dan sudah pasti bahwa
ilmu adalah salah satu dari kebutuhan
pokok tersebut.
Kedua, secara syar’i pun sesungguhnya
menuntut ilmu adalah ‘fardh’ (kewajiban
tertinggi, seperti yang telah disebutkan
pada hadits terdahulu. Dan oleh karenanya,
mengabaikan kewajiban ini adalah masuk
dalam kategori dosa besar.
Inilah yang juga mendasari kenapa wanita-
wanita Muslimah masa lalu banyak yang
menjadi ulama besar, hampir dalam segala
bidang ilmu pengetahuan. Mungkin contoh
terdekat adalah isteri Rasulullah SAW
sendiri, Aisya binti Abi Bakr RA, yang
menjadi guru besar ilmu-ilmu Islam justeru
bagi banyak sahabat-sahabat agung itu
sendiri. Beliau, selain menghafal Al-Qur’an
dan paham, juga menjadi perawi hadits
terbesar ketiga dari kalangan sahabat-
sahabat Rasulullah SAW. Bahkan ulama
mengatakan ;kalau sekiranya bukan karena
keilmuan Aisya RA, maka sungguh banyak
masalah-masalah kewanitaan dan
kekeluargaan yang tidak kita ketahui’.
Ketiga, dalam tatanan keluarga Muslim,
wanita adalah pengelolah (manager) rumah
tangga. Dan sudah pasti ini juga
memerlukan ilmu yang tidak sedikit.
Menejemen apa saja dalam hiudp ini
memerlukan keahlian, dan keahlian itu
tentunya didasari oleh keilmuan.
Oleh karenanya, seorang ibu diperlukan
untuk memiliki kemahiran menejemen
sehingga rumah tangga tersebut mampu
berjalan secara ‘smooth’ (lancer). Jangan
sampai hal ini dianggap remeh, karena
betapa sering menimbulkan pangkal
permasalahan rumah tangga itu sendiri.
Keempat, ada beberapa bidang kehidupan
yang memang lebih layak/sesuai ditangani
oleh kaum hawa itu sendiri. Dua di antara
beberapa hal tersebut adalah pendidikan
dini anak-anak dan ahli kesehatan (dokter)
khusus bagi kaum wanita.
Dalam banyak hal, pendidikan dini anak-
anak merupakan tahapan terpenting dalam
upaya membangun karakter dan
kepribadian manusia. Dan sudah pasti,
karena tabiatnya, wanita ternyata lebih
sesuai karena adanya beberapa ciri pada
mereka yang tidak dimiliki oleh pria. Di
antara ciri tersebut adalah kelembutan,
kasih sayang, dan tentunya lebih
menonjolnya kesabaran pada kaum wanita
ketimbang kaum pria.
Kelima, dan ini yang paling urgent adalah
wanita atau kaum Ibu adalah tangan-
tangan pertama dan utama dalam
menentukan wajah generasi masa depan.
Kegagalan kaum wanita dalam tanggung
jawab ini merupakan kegagalan generasi
dan manusia secara keseluruhan. Inilah
yang menjadikan Rasulullah SAW bersaba:
‘bahwa dalam sebuah bangsa, jika kaum
wanita baik maka baiklah bangsa itu. Tapi
sebaliknya, jika kaum wanitanya rusak,
maka rusaklah bangsa tersebut’ (hadits).
Suatu ketika saya diundang untuk ceramah
di sebuah majelis di kota New York tentang
pendidikan anak. Ketika saya akan memulai
ceramah saya bertanya ‘kok saya nggak
melihat seorang pun wanita’. Pihak
penyelenggara menjawab bahwa wanita
mereka memang tidak biasanya menghadiri
acara-acra seperti itu. Saya lalu bertanya
‘kaum pria yang hadir ini apakah mereka
yang langsung terlibat dalam mendidik
anak?’. Hampir semua terdiam, dan bahkan
mengangguk.
Selanjutnya saya Tanya: ‘berapa di antara
mereka nantinya yang akan menyampaikan
ke isteri-isteri mereka hal-hal yang nantinya
saya sampaikan?’. Juga hampir tak
seorangpun yang mengangkat tangan. Saya
kemudian mengatakan bahwa ceramah
saya mala mini terasa kurang bermanfaat,
walau dihadiri sekitar 200-an orang.
Sejarah membuktikan bahwa banyak
orang-orang hebat terdahulu karena
memang ibulah yang berada di belakang
mereka. Siapa yang tidak mengenal Nabi
Ishaq AS? Hajarlah yang membentuk
kepribadian yang siap mengorbankan
hidupnya sekalipun demi keridhoaan Allah
SWT. Siapa yang tidak mengenal Musa AS?
Ibunyalah yang menjadi factor tumbuhnya
manusia pemberani ini. Pemberani dalam
menyampaikan kebenaran walaupun
kepada seorang dktator zalim semacam
Firaun. Siapa yang tidak mengenal Isa AS?
Ibunya yang penuh cinta dan kasih yang
menumbuhkan kepribadian itu dalam
menyampaikan risalah kebanaran dengan
asas kasih sayang di saat semua manusia
mempertuhankan material kebendaan. Dan
tentunya siapa yang tidak mengenal
Muhammad SAW? Ibunyalah yang
memainkan peranan, menumbuhkan
fondasi karakater yang menjadikan beliau
memiliki sifat-sifat para nabi dan rasul
pendahulunya.
Wanita Muslim dan Dunia Global
Dunia kita saat ini dikenal sebagai dunia
global yang memliki karakteristik, antara
lain, kompetisi, kecepatan dan keterkaitan.
Mau atau tidak, umat ini berada dalam
dunia yang dibangun di atas
‘istibaaq’ (bahasa positif dari kompetisi
atau berlomba-lomba) dalam segala aspek
kehidupan manusia. Dan karenanya, hanya
dua kemungkinan yang terjadi. Iktu
mengambil bagian dari perlombaan itu,
atau sebaliknya, menyerah dan hanya akan
menjadi korban-korban keganasan
kompetisi tadi.
Dalam suasana demikian, wanita yang
ternyata lebih dari seperdua anggota umat
ini akan memainkan peranan yang tidak
sedikit dalam kompetisi tadi. Sungguh
merupakan kerugian besar jika umat ini
mengabaikan peranan kaum wanita dalam
upaya meraih kesuksesan dan kemenangan
dalam berlomba tadi.
Dan sudah pasti, untuk kaum wanita
Muslimah dapat berpartisipasi secara efektif
dalam perlombaan tadi, pendidikan menjadi
tuntutan utama. Karena ilmu memang juga
menjadi factor utama kesuksesan banyak
bangsa dalam dunia global yang seringkali
dikenal sebagai dunia modern saat ini.
Akankah mengganggu tabiat kewanitaan
dan bahkan peranan kerumah tanggan
ketika mereka pendidikan tinggi?
Jawabannya pasti tidak seharusnya, dan
bahkan sebaliknya akan semakin mampu
menjalankan tugas-tugas kewanitaannya
sesuai tabiat dan komposisi peranan yang
Allah SWT amanahkan kepada mereka.
Kita ternyata telah menemukan di
masyarakat ibu-ibu yang ‘well educated’,
memainkan berbagai peranan yang besar
dalam segala aspek kehidupan dan dalam
berbagai bidang, termasuk politik, economi,
sosial budaya, dan agama, tapi tetap berada
pada tabiat kodratnya sebagai wanita dan
ibu rumah tangga. Subhanallah!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s